English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

6 December 2009

sejarah Nahdlatul Ulama

sejarah nahdlatul ulama
Keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana--
setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon Kebangkitan Nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
sumber http://www.nu-jatim.org/index.php?option=com_content&view=article&id=44&Itemid=53



| Read More About “sejarah Nahdlatul Ulama”

21 June 2009

palnetarium

Planetarium, Tempat Wisata Pendidikan Yang Kian Renta
Oleh Muhamad Razi Rahman
Jakarta - Kekecewaan dirasakan oleh Jaka (30), ketika pada Senin (21/5) melihat pengumuman di depan pintu masuk Planetarium Jakarta yang menginformasikan bahwa teropong bintang sedang rusak

Pengunjung yang ingin menyaksikan planetarium hanya dapat melihat tampilan benda-benda langit melalui "slide".
Jaka yang juga membawa sejumlah orang sanak keluarganya, mencari tahu dengan bertanya ke pedagang sekitar dan mendapat jawaban bahwa teropong bintang yang menjadi "andalan" di Planetarium itu telah rusak selama berbulan-bulan.
Hal yang sama juga dialami oleh Ayu (20) dan temannya. Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap menonton pertunjukkan citra ganda yang tampil melalui sejumlah "slide" tersebut.
"Suaranya tidak begitu jelas. Rasanya juga seperti di ruang kelas SMA sewaktu mendapat mata pelajaran fisika," kata mahasiswa Universitas Indonesia itu, sesudah menyaksikan pertunjukkan citra ganda itu.
Kejadian yang dialami oleh Jaka dan Ayu kemungkinan juga dialami oleh sejumlah orang yang berkunjung ke bangunan yang telah diresmikan sejak 10 November 1968 itu, sampai dengan akhir Mei 2007.
Pertunjukkan teater bintang di Planetarium telah terhenti sejak 23 Januari 2007, karena terjadi kerusakan pada instrumen untuk pengoperasian pertunjukan ini.
Namun, teknisi planetarium berhasil melakukan perbaikan sementara, sehingga pertunjukkan teater bintang bisa dinikmati kembali sejak 1 Juni 2007 sambil menanti perbaikan instalasi yang sebenarnya, kata Kepala Seksi Bagian Teknik Planetarium, Radjaja.
"Alat yang rusak adalah 'hard disk' komputer yang digunakan untuk teater bintang, dan sudah berlangsung sejak 23 Januari 2007 sampai hari ini," katanya.
Ia menyatakan alat yang sudah beroperasi sejak 1998 sampai sekarang ini rusak karena faktor usia, selain frekuensi penggunaannya yang terus-menerus akibat tidak adanya alat cadangan. Dalam sepekan disk komputer itu digunakan paling tidak empat kali dalam sehari.
Sementara itu, Kepala Pemasaran dan Promosi Planetarium, Pathudin Mansyur mengemukakan bahwa untuk mengganti instrumen yang rusak memang harus mendapatkannya langsung dari pabrik pembuatnya, yaitu perusahaan Carl Zeiss dari Jerman.
Menurut ensiklopedia Wikipedia, Zeiss adalah pabrikan Jerman pembuat lensa dan sistem optikal lainnya yang terletak di Oberkochen dengan anak perusahaan yang penting di Jena. Perusahaan ini dinamakan menurut nama pendirinya, ahli optik Carl Zeiss (1816-1888).
Rencana "overhaul"
Pathudin memaparkan, pihaknya telah mengirimkan faks kepada Zeiss berisi berbagai spesifikasi yang ingin diganti. Faks tersebut juga mengemukakan rencana "overhaul" (pemeriksaan seksama untuk perbaikan) yang dilaksanakan pada bulan Agustus.
"Kami memilih Agustus karena pada masa awal tahun ajaran biasanya hampir tidak ada sekolah mengadakan tur ke Planetarium," katanya dan menambahkan, kemungkinan baru pada bulan tersebut pihak Zeiss membawa spesifikasi yang akan menggantikan instrumen yang rusak.
Mengenai "overhaul", Pathudin mengaku bahwa pihaknya tidak bisa melakukan hal tersebut secara ideal yaitu selama satu atau dua tahun sekali karena alasan keterbatasan anggaran.
"Kami sudah membuka kembali pertunjukkan teater bintang untuk perorangan mulai Jumat (1/6). Sebelumnya, kami juga telah mengujicobakan kepada rombongan pada bulan Mei," kata Pathudin.
Menurut dia, pembukaan kembali pertunjukkan teater bintang bukanlah berarti bahwa instrumen yang rusak telah diganti, tetapi masih menggunakan peralatan yang telah diperbaiki oleh Tim Teknis Planetarium.
Karena masih "rentannya" teropong bintang, Pathudin juga berharap warga dapat mengerti bila kemungkinan tidak ada pertunjukkan ekstra seperti yang biasanya terdapat pada masa liburan.
Optimalkan fasilitas
Di dalam Planetarium itu selain berisi pertunjukkan teater bintang dan pertunjukkan citra ganda, pengunjung juga dapat melihat beragam fasilitas publik lainnya seperti perpustakaan yang menghimpun beragam bahan tertulis mengenai astronomi.
Namun, masyarakat ibukota masih belum optimal dalam menggunakan perpustakaan tersebut. Hal itu terindikasi dari minimnya jumlah pengunjung di perpustakaan yang telah dibuka sejak 1969 itu.
"Biasanya jumlah pengunjung hanya sekitar lima orang per hari, yang pada umumnya hanya para pelajar dan mahasiswa," kata Pathudin.
Menurut dia, masyarakat umum biasanya kurang tertarik kepada perpustakaan karena lebih berminat kepada kegiatan peneropongan bintang langsung seperti yang diselenggarakan oleh Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).
Pathudin mengemukakan bahwa HAAJ adalah wadah para penggemar astronomi yang resmi berdiri pada 1984 dan terdiri dari beragam latar belakang pendidikan, profesi, dan tingkatan umum.
"Planetarium yang berperan dalam melahirkan HAAJ juga turut membina perkembangannya dan menganggapnya sebagai mitra kerja sama dalam mempopulerkan ilmu astronomi di Indonesia," katanya dan menambahkan, jumlah anggota HAAJ kini adalah sekitar 70 orang.
Ia memaparkan, HAAJ menyelenggarakan aktivitas secara berkala dengan bimbingan pakar astronomi seperti pemutaran film ilmiah, diskusi, pameran, dan melakukan pengamatan benda langit. Selain itu, terdapat pula kegiatan insidental seperti pengamatan gerhana bulan dan matahari.
Mengenai minimnya jumlah pengunjung perpustakaan di Planetarium, Pathudin menuturkan, hal tersebut juga terjadi karena masih minimnya jurusan atau departemen astronomi yang terdapat di universitas-universitas ibukota.
"Biasanya mahasiswa yang datang berasal dari UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatulllah Jakarta dan UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Ini mungkin karena di dalam mata kuliahnya ada tentang ilmu falak (astronomi) dan juga cara pengajaran atau pendidikannya," ujar dia.
Di dalam perpustakaan astronomi terdapat lebih dari 3.600 literatur baik dalam bentuk buku, majalah, dan bentuk penerbitan lainnya. Koleksi itu diperoleh melalui langganan majalah atau sumbangan dari beberapa kedutaan asing, katanya.
Perpustakaan yang terbuka untuk umum pada jam kerja kantor itu, lanjut Pathudin, juga berisi hasil seminar astronomi dan karya ilmiah profesional lainnya, antara lain dari pihak Observatorium Bosscha Lembang, Jawa Barat.
Kehadiran planetarium sebagai salah satu obyek wisata pendidikan di Jakarta mempunyai makna peting bagi masyarakat. Diperlukan pengelolaan yang lebih baik untuk memberikan layanan wisata yang lebih memuaskan bagi pengunjung, terutama mengingat jumlah planetarium di tanah air sejauh ini hanya ada dua dengan palnetarium Boscha di Lembang, Jawa Barat. (*)


| Read More About “palnetarium”

sejarah baturaden

Sejarah Baturaden
May 27, 2009


LETAK GEOGRAFIS BATURRADEN
Baturraden dikenal sebagai tempat pariwisata atau peristirahatan pegunungan sejak tahun 1928 yang memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin dengan suhu 18°C-25°C. Baturraden terletak di sebelah selatan di kaki gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 meter, merupakan gunung berapi terbesar serta gunung tertinggi kedua di
Jawa.

Baturraden terletak pada ketinggian sekitar 640 meter diatas permukaan laut dan berjarak hanya 14 km dari pusat kota Purwok
erto yang dihubungkan
dengan jalan yang memadai. Untuk mencapa
i taman wisata Baturraden yang terletak di daerah Banyumas dapat menggunakan transportasi darat yang dapat dilakukan dengan berbagai Armada Angkutan Darat: Kereta Api, Bus Antar Propinsi, Bus Antar Kota yang menghubungkan kota-kota diseluruh Pulau Jawa terutama tujuan Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Semarang.
Kota Purwokerto merupakan ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Wilayah Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Barat Daya dan merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39′ 17” sampai 109° 27′ 15” dan di antara garis Lintang Selatan 7° 15′ 05” sampai 7° 37′ 10” yang berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa.Bagian utara Kabupaten Banyumas, yakni berbatasan dengan Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, dan Purbalingga, merupakan kawasan pegunungan yang merupakan ujung barat Pegunungan Serayu Utara. Puncak tertingginya adalah Gunung Slamet (3.428 meter dpl), di samping terdapat puncak lain seperti Gunung I Kucing (1.520 meter) dan Gunung I Manis (2.163 meter). Perbukitan yang terdapat di bagian barat merupakan perpanjangan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Sedangkan pegunungan yang terdapat di bagian tenggara adalah ujung barat dari Pegunungan Serayu Selatan, dengan puncaknya Gunung Jampang (809 meter) di perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha. Batas-batas Kabupaten Banyumas, yaitu :
1. Sebelah Utara : Gunung Slamet, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang
2. Sebelah Selatan :Kabupaten Cilacap
3. Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
4. Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara.

SEJARAH BATURRADEN
Sejarah atau cerita yang berhubungan dengan nama Baturraden itu ada dua versi, yaitu versi Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi.
Baturraden berasal dari dua kata yaitu ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Dilihat dari susunan kata-katanya, maka nama Baturraden terdiri dari kata :
a. Batur – Radin, yang artinya tanah datar
b. Batur – Adi, yang artinya tanah yang indah
Dua macam nama tersebut bukan sesuatu nama yang berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan wilayah lain sepanjang lereng Gunung Slamet dari arah barat ke timur sampai Dieng plateau (dataran tinggi Dieng). Disekitar Baturraden juga terdapat beberapa nama diawali dengan kata ‘Batur’, seperti; Batur Agung, Batur Golek, Batur Semende, Batur Sengkala, Batur Macan, Batur Duwur, Batur Wadas Galengan dan Batur Begalan.
Versi Kadipaten Kutaliman
Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten ‘KUTALIMAN’ yang terletak 10 km disebelah Barat Baturraden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan dan seorang ‘gamel’ (pembantu yang menjaga kuda). Salah satu anak perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah dan mengusir gamel dan anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai ‘Kaliputra’. (Kali berarti Sungai dan Putra berarti anak laki-laki). Letaknya kira-kira tiga kilometer sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang indah dan memutuskan untuk tinggal di tempat yang sekarang dikenal dengan nama ‘Baturraden’. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua ‘R’ karena versi tersebut berasal dari kata ‘Batur’ dan ‘Raden’ menjadi ‘BATURRADEN’.
Versi Syekh Maulana Maghribi
Konon di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran bernama Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki yang memeluk agama Islam dan dia adalah seorang ulama. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya selaku orang muslim, terlihatlah oleh beliau cahaya terang misterius bersinar disebelah timur menjulang tinggi di angkasa. Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat darimana cahaya terang misterius itu datang dan makna dari cahaya terang tersebut, maka timbullah niat dan itikad yang kuat di dalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabatnya bernama Haji Datuk dipanggil dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya untuk berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut. Maka,berangkatlah si Pangeran bersama-sama dengan sahabatnya itu 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan) orang pengikutnya mengarungi samudera menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.
Kemudian sampailah mereka di ujung timur sebuah pulau yang bernama dengan Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa ini terkenal dengan nama Pantai Gresik. Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan berbagai kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, mereka belum mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya karena cahaya terang misterius tersebut tampak disebelah barat. Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Ditempat ini Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.
Karena mereka mempunyai kepercayan pada Yang Maha Pencipta, mereka dijiwai oleh kekuatan Gaib yang tiada kunjung padam dan berketetapan hati akan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Dari Pemalang mereka menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya yang dihadapinya karena tertarik sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat di Timur Laut. Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya sambil termenung merasakan kisah perjalanannya serta kewajibannya yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebarluaskan agama Islam. Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.
Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’. Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya terang masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi. Dan sebelum mereka sampai ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di dekat Sendang (kolam) untuk melakukan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama ‘Belik’. Setelah melakukan Sholat, maka perjalanan diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya terang tersebut terlihat ada dipuncak Gunung. Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama ‘Watu Kumpul’.
Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa. Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan. Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi : ‘Kiranya pertapa itu adalah seorang Budha’. Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa. Syekh Maulana Maghribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu,tetapi ia belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.
Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.
Akhirnya si pertapa yang mengaku bernama ‘Jambu Karang’ (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung). Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.
Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. KemudianSyekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’. Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :
1. Makdum Kusen (Makam di Rajawana)
2. Makdum Medem (Makam di Cirebon)
3. Makdum Umar (Makam diKarimun Jawa)
4. Makdum (yang menghilang atau murca)
5. Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan)
Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).
Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan ‘Mbah Atas Angin’ selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang bernama ‘Banjar Cahayana’ (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya). Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.
Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung ‘Gora’ dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, sebab Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap. Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya ‘Pancuran Pitu’ yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya beliau memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bahwasanya ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu, ia berkata : Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan. Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi ‘Gunung Slamet’. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’. Rusuladi artinya ‘Batur Yang Baik’ (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan ‘BATURRADEN’.
sumber=http://dodydwiyatmoko1986.wordpress.com/2009/05/27/sejarah-baturaden/

| Read More About “sejarah baturaden”
previous home

Mau Cari Apa ?

Berlangganan

kirim update terbaru dari

54K1J0 Site langsung ke Email anda!

ADS KAMU Berlangganan 54k1j0 Site Melaui Email

Adsense Indonesia

Statistik

free counters

banner x-change

 

recent comment

Teman-TemanKU

Recent Post